Juragan Cerpen

Baru belajar bikin blog jadi komentar yang kalau ada yang salah.Tapi,dengan alasannya yah teman...

awal yang singkat

Sebelum ku awali cerita ini, ku perkenalkan nama ku Nelisya Arindia Syafa. Diriku termasuk seorang cewek yang pendiam jika belum kenal dekat namun terlihat sangat hiperaktif jika sudah kenal. Diriku tergolong siswa yang berprestasi dalam kelas. Diriku memang tidak terlalu terkenal di sekolah, mungkin hanya beberapa diantaranya saja yang mengenalku.

Di hari indah itu, seorang akhwat menyita perhatian ku. Disaat ku tanya ia tersenyum manis pada ku. Ya mungkin itu hari keberuntungan ku, bisa bertemu dengan idaman hati. Memang ia tergolong baru dalam kehidupanku. Aku baru mengenalnya mungkin kurang lebih 3 bulan yang lalu. Karena Ia merupakan siswa pindahan. Ya memang orang yang pintar, cerdas serta aktif, walaupun tingkahnya sangat aneh.
Awalnya ku tak menyukainya bahkan membencinya, karena ku anggap Ia telah mengancam posisi ku sebagai siswa yang berprestasi. “kamu itu kok bisa sih sepintar itu?” ujarku, “sudah takdir” sepatah kata yang ia sampaikan padaku. Sungguh lelaki sombong, pikirku dalam hati. Itulah awal ku mengenalnya, sebut saja Ia Rifat. Ya Rifat Endraf Isnan, lelaki pindahan dari sebuah sekolah swasta. Lelaki itu memang pintar, namun tingkah lakunya sangat lah aneh.
1 bulan menjelang, kita mulai dekat, kita mulai bertukar pendapat dan cerita. Hingga suatu hari sahabat ku memberi kabar yang tak pernah ku duga sebelumnya, “hey Nelis, kamu mau tau tidak siapa cewek yang disuka si Rifat?” ujarnya. “mau dong, emang siapa? di kelas inikah atau dimana?” jawab ku “dia itu suka sama aku…”, “wah iya? ciee, udah jadian aja kalian cocok kok, lagian dia juga pintar kan” ucapku memotong perkataan nya. “ihh dengerin dulu, dia bukan suka sama aku aja, dia juga suka sama kamu dan Diska.” Seketika suasana menjadi hening. “ahh kamu becanda nih, udah lah gak usah becanda begitu, gak mungkin dia suka sama aku, Hahahaha” ucapku menyindir. “ya sudah jika kamu tidak percaya” ujar Raya dengan muka kusutnya.
Bel pun berdentang, waktu pulang pun tiba. Semalaman itu ku hanya merenung dan bertanya-tanya “mengapa dia bisa menyukaiku, dia kan jahat padaku, selalu membuatku iri dan marah. Yaa mungkin ini sudah takdir. Sudahlah dia ini yang suka mengapa ku harus memikirkannya!” pikirku.
1 bulan pun berlalu, aku kini mulai dekat dengan nya. Hingga suatu hari kami jalan berdua ke sebuah MAL, tidak jauh dari sekolah kami. Disana aku dan Nya terlihat bagai sepasang kekasih, saling bertukar perhatian bahkan bertukar cerita masalah pribadi. Ternyata berada di dekatnya ku merasa nyaman. Waktu memang singkat, tidak terasa kita telah lama berjalan, hingga akhirnya ku putuskan untuk pulang. Di sepanjang perjalanan terasa nyaman dengannya, hingga ku tak menyadari ternyata kita duduk sangat dekat, dan ternyata Ia memegang bahu ku. Rasa nya sungguh aneh diperlakukan oleh seorang lelaki seperti itu, karena memang ku tak pernah diperlakukan seperti itu oleh lelaki manapun, ya selain Bapa ku sendiri.
Di suatu detik Ia memegang tanganku sungguh ku merasa kaget, hingga ku beranikan diri untuk bertanya padanya “kok kamu perhatian banget sih sama aku? kita kan baru kenal.” Tanyaku padanya. “karena aku menyukaimu, mungkin sekarang sudah mencintaimu.” Jawabnya dengan sekilas senyum indahnya. Aku pun hanya bisa tersenyum dan terdiam.
Akhirnya ku sampai rumah, di rumah aku tiba-tiba terpikir oleh kata-kata lelaki itu. Dan ku putuskan untuk mengirim pesan singkatku padanya. “sudah sampai terminal?” lama ku menunggu balasannya hingga aku pun bosan dan sedikit marah.
“iya say ini lagi di angkot yang kedua.” Jawabnya
“ihh kebiasaan deh manggilnya say wae, emang kamu pacar aku apa?” jawabku kesal
“biarin atuh say?”
“ini teh apa, kita pacaran?” tanyaku padanya
“terserah kamu”
Apa? dia ini tidak gentle banget sih, masa nembaknya kaya gini *ujarku dalam hati “loh kamu kan cowoknya kok aku yang memutuskan?”
“iya sudah kita pacaran.” Dengan tegasnya menjawab pertanyaanku
“serius?” ucapku tak percaya.
“serius.” ujarnya. “terima kasih kamu telah mau menjadi pacar ku” ucapku padanya.
Dan sejak saat itu lah kami resmi menjalin ikatan sebagai sepasang kekasih. Hari pertama kita bertemu sebagai pasangan kekasih aku sangat canggung padanya, yaa aku sudah bilang sebelum berpacaran kalau diriku tidak mau banyak yang tau kalau aku dan nya adalah pasangan kekasih. Tapi entah dari mana teman-teman ku mengetahui jika diriku telah menjadi kekasih Rifat. Tiba-tiba ku teringat dengan suatu peristiwa. Hari itu memang tidak terlalu istimewa bagi ku, diawali dengan agenda ku hari itu untuk mengikuti Extrakulikuler di sekolah. “Rifat besok jadi kan belanja buat Bazar nanti?” tanya ku padanya. “terserah aku sih mau-mau aja.” Jawabnya. “oke jadi kalau gitu.” Ucapku mengujar janji.
Beberapa detik dari percakapan singkat itu tiba-tiba ku terjatuh dari sebuah tangga, ya padahal tangganya tidak memiliki banyak anak. Bahkan hanya memiliki 3 buah anak tangga. ”awas…” teriak Rifat mengingatkanku. Dan akhirnya aku pun terjatuh. Kaki ku sungguh sakit, dan disaat itu lah ku melihat sosok Rifat yang perhatian itu datang dan menolongku. “kamu tidak apa-apa kan? makannya hati-hati, tadi kan aku udah bilang hati-hati” ujarnya sedikit kesal. “ahh ini gara-gara kamu Rifat.” Ujar kesal. “ya udah maaf” pintanya padaku sambil memegang tangan ku. “yaa” jawabkan dengan melepaskan pegangannya dan pergi jauh darinya. Yaa disana memang ada seorang teman ku yang melihat, namun ku tak tau jika ini akan menjadi seperti sekarang. Kelas ribut dengan sorakan-sorakan menyerukan nama ku dan Rifat.
Ya sudahlah nasi telah menjadi bubur. Ku biarkan semua ini mengalir. Sampai suatu ketika ku berpapasan dengan salah seseorang penting di sekolah ya Ia adalah Ketua OSIS di sekolah ku panggil saja Ia Adil. “Rifat…” sapanya padaku “apa sih ahh” ucapku malu. Itu pertama aku disapa oleh orang yang ku idolakan dari dulu, seketika perasaan ku pun sangat lah senang. “ya ampun Rifat ini Ia pasti sudah bilang pada Adil, ahh jadi nyebarkan.” Ucapku dalam hati. Dan sejak saat itulah aku dan Adil mulai dekat.
Suatu hari aku mendengar kabar jika Adil si Ketua OSIS itu menjalin hubungan dengan Sherly. Ia adalah salah satu siswa yang berbakat, Ia selalu menampilkan kelihaian gerak tubuhnya dan olah vokalnya di halayak warga sekolah. Mendengar berita itu tiba-tiba saja lu menjadi uring-uringan. Aku aneh dengan perasaanku ini ku mulai nyaman berada di dekat Adil ngobrol bersama nya pun nyambung. Tapi aku ini pacar sahabat Adil, mana mungkin aku menyukai Adil, lagi pula Sherly adalah temenku mana mungkin ku menyakitinya, pikirku dalam hati.
Yaa ANNIVERSARY aku dan Rifat pun tiba, namun saat kini ku marah padanya. Karena sms semalam “I will kiss you tomorrow” ku tak mau dicium oleh cowok sepertinya, dan lagian kita baru pacaran 1 bulan tapi dia sudah seberani itu. Aku pun tak pernah dicium oleh lelaki manapun selain Bapak ku. Hari itu pun tiba diawali dengan ku kerja kelompok. Yaa entah kebetulan atau apa aku satu kelompok dengan Rifat, sungguh menjengkelkan. Di hari itu aku mendiamkannya bahkan ku berdekatan dengan teman cowok ku sehingga Ia terlihat kesal.
Waktu sekolah pun tiba, kami semua berangkat ke sekolah, di perjalan Rifat sempat berbisik “wah tempatnya tidak aman” dengan sepontan aku pun berlari mengejar teman ku yang berada jauh di depan. “kamu sungguh kurang ajar Rifat” ucap ku dalam hati. Tiba lah kami di sekolah, disana kami langsung berlatih kembali supaya penampilan kita bagus, kami pun pergi ke dalam ruang kesenian. Untunglah tak ada Rifat jadi aku bebas mengeluarkan suasana hatiku, “lama-lama aku bosan dengan Rifat sungguh aku bosan” kulantunkan sebuah lagu yang tak bernada itu sambil memukul-mukul gendang. “kamu kenapa Nel?” ucap salah seorang temanku Devara, “enggak aku lagi kesel sama si Rifat, makanya dari tadi aku jauhin dia” ucapku, “udah atuh putusin aja hahahha” ujar nya merayu “ahaha benar, nanti aku mau nunggu waktu yang tepat.” Ucap ku menerima saran nya. Bel berdentang tanda masuk kelas, kami pun meninggalkan ruang kesenian dan memasuki kelas.
Waktu pelajaran seni musik pun tiba, dimana kami harus menampilkan sebuah nyanyian dengan instrumental yang harmonis. Karena Rifat membawa alat musik keyboard membuat instrumen kelompok ini tidak harmonis, aku pun berani kan diri berbicara pada nya “Rifat ngapain sih kamu bawa keeybroad segala, udah lah gak usah pake keyboard nanti malah acak-acakan lagi, kan kamu belum fasih mainnya. Ucapku dengan nada membentak. Dengan tenang nya Rifat hanya menjawab “ya sudah tapi masalah aku mainin alat apa, aku gak bawa alat lagi selain keyboard?” tanyanya padaku “udah lah gak usah mainin alat musik kamu mah nyanyi aja!” ucapku sambil pergi meninggalkannya.
Namun tiba-tiba sesuatu terjadi pada Rifat, mungkin itu karena aku membentaknya tadi. “Rifat ihh kok nangis sih, kaya cewek aja gitu juga nangis” ucapku namun tak menatapnya. Betapa ku terkejut pada saat ku melihat ia sedang kesakitan menahan sakit jantungnya.
“Rifat kamu ke UKS ya?” ucap Rosa salah satu petugas PMR di sekolah ku. “ihh Rifat kamu kenapa ihh? udah ke UKS ya?” ujar Raya. “ennggak” jawab Rifat dengan terbata-bata. Aku tak mampu mengucap kata, aku hanya diam dengan menahan tangis, “Rifat udah ke UKS ihh nanti tanbah parah loh” ucapku membujuk. “udah ayo aja Fat” ujar Danu sambil memapangnya pergi ke UKS. “Nelisya kamu malah diem di sini kamu itu pacar nya, masa kamu gak peduli, ayo ke UKS!” bujuk Fitri padaku. “ya Allah Rifat kenapa? aku merasa bersalah padanya, sembuhkan ia.” Ujar ku dalam hati sambil seraya mengikuti Rifat dari belakang.
Tibalah kami di kelas Adil sang ketua OSIS, dia langsung keluar dari kelas nya dan menemui kami “loh Rifat kamu kenapa?”seraya memapangnya ke UKS. Sampai UKS Rifat segera di tangani oleh Adil, Rosa, dan Ayu. “kamu masuk ke dalam Nelis” ujar Fitri padaku memaksa, “gak mau” jawabku singkat
“kamu teh ihh kamu pacar nya, di saat seperti ini dia membutuhkanmu” ujar Fitri
“engga mau atuh lah” jawabku
“udah ahh aku masuk ke dalam” ujar Raya
“ya udah” jawab ku
“ihh kamu mah Nelis” ujar Fitri
Diriku tak berani menemani Rifat, karena aku malu dengan diriku sendiri. Karena aku lah dia menjadi seperti itu. “sini atuh Nelis” ujar Adil membujuk, “ahh enggak ahh sok aja kan udah ditemenin sama Adil” jawabku. “sini atuh ihh nelis kasian tau Rifat” ujar Raya. “itu atuh kan gak boleh banyak orang, kasian Rifatnya” jawabku. “ihhh Danu kamu keluar sana biar Nelis masuk” ujar Rosa. “ihh gak mau udah kesini aja Nelisnya, masa harus aku yang keluar.” Jawab Danu “udah, gak papa kan Rifat Nelis disini aja?” tanyaku pada Rifat. Dengan isyaratnya ia mengangguk menandakan ku boleh berada di luar.
Beberapa saat kemudian ku memutuskan untuk masuk menemani Rifat “ini Fat makan dulu yaa.” Tanya Adil pada Rifat. “ya ampun Adil ini sangat perhatian, loh aku jadi degdegan begini, ihh apa sih Nelis kamu ini pacar Rifat sudah lah” pikirku. “nelis atuh yang nyuapin Rifatnya? haha” tanya adil membuyar kan lamunan ku. “ehehehe enggak deh sama Adil aja” jawab ku dengan terbata-bata.
Bel berdentang tanda waktu pulang telah tiba. Diriku pun berpamitan kepada Rifat untuk pulang duluan. Malam pun tiba dan ku habiskan dengan tangis dan penyesalan terhadap tingkah laku ku pada Rifat.
Singkat cerita 2 minggu pun berlalu, hubungan ku dengan Rifat kini benar-benar renggang, kita tak ada komunikasi. Namun ku tetap bertahan. Suatu hari tiba-tiba ada rapat untuk membicarakan acara PENSI sekolah. Disana ada Rifat dan adil, di pinggir ku ada Rifat dan tepat di depan ku ada Adil. Sehinnga suatu detik Adil melihat tulisan di tangan Firdha “rizki love” dan Ia berkata “ahh nanti saya juga mau nulis nama Sherly yang gede gera hahhaha” hati ku tiba-tiba sakit mendengar ucapan Adil. “hahahaha” ucapku berusaha tenang. Setelah selalesai rapat aku pun pulang tanpa berpamitan pada Rifat karena ku sudah kehilngan mood.
Malam pun tiba, dan di malam itu lah aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan ku dengan Rifat. Yaa bilang padanya jika dia itu kurang perhatian dan kita kurang komunikasi, namun jauh dalam hati kecil ku berkata aku ini menyukai lelaki lain, namun ku masih bingung pada siapakah orang yang ku sukai Ferry kah? tidak mungkin dia telah mempunyai pacar dan dia itu kan PHP.
Keesokkan harinya, ku sangat ceria di sekolah. “beda lah yang udah jomblo mah, kok seneng sih? Orang lain mah kalau putus itu sedih galau tapi kamu malah seneng aneh ihh.” Ucap Devara padaku “biarin atuh protes aja ihh, seneng atuh jadi kalau deket-deket sama cowok lain tanpa harus merasa bersalah sama yang kemarin, hahaha” ucapku menyidir Rifat yang memang berada tidak jauh dari posisi ku sekarang.
Hari demi hari pun berlalu, kini ku dekat dengan Yana seorangn cowok yang perhatian dan mengerti keadaan ku. Hingga suatu hari Yana membeberkan rahasia nya ternya dia mendekati ku dan perhatian padaku karena disuruh oleh Rifat, darah ku mulai naik saat ku mendengar pengakuan nya itu. “aku ini bukan anak kecil, aku itu bisa tanpa dia jangan anggap aku lemah lah, sumpahnya geuleuh sama orang yang kaya gitu!” teriakku dalam kelas mengeluarkan kekesalan ku. Mulai dari situ lah ku mulai membenci Rifat.
Suatu ketika diriku berlatih upacara adat untuk mengisi acara pensi sekolah. Dan disaat itu lah ku melihat Adil mengenakan baju biru dengan dibalut jaket levi’s hitam, sungguh gagah. Dan mulai saat itu lah aku selalu memikirkannya. Untung lah setelah ku putus dengan Rifat, aku mendengar kabar kalau Adil pun putus dengan Sherly, sungguh kabar yang sangat menggembirakan. Karena ku rasa ku mulai menyukai Adil.
Sekian lama aku memendam perasaan ini, yaa perasaan suka pada Adil sang ketua OSIS. Kini terbongkar begitu saja karena ulah Devara. Pada saat acara Pensi sekolah dimulai ia meminjam HP, tanpa ku sadari ia melihat draf di dan disana lah semua curahan hati ku tentang Adil “MAS tehh siapa?” Tanya devara pada ku “ehh ihhh kamu mah liat draf? nyebelin ihh” ucapku sambil berusaha mengambil HPku. “mochammad Adil Slamet” ujar Ilham teman dekat Adil “ehh bukan ihh bukan kepo ihh Deva mah ihh” ucap menyangkal “ohh Nelis the suka sama Adil” ujar Devara, Rizki dan Aji “engga ihh kepo kalian mah, itu teman SD aku. Panggilannya MAS.” Jawab ku berusaha meyakinkan mereka. “alah udah lah jujur aja Adil kan? gak papa atuh dia juga kan lagi jomblo” ujar Devara. “ihh apa sihh, udah ahh siniin HP aku?” ucap ku. Devara pn memberikan Hp ku dan pergi ke depan panggung.
“Ya ampun Devara ini lancang sekali main baca baca draf aku segala, jadi kebongkar kan?” pikir ku dalam hati. Devara pun menghampiri diriku “udah dibilangin da ke Adilnya” sepatah kalimat itu membuat kaget “ihh apa kamu mah ihh tau ahh” ujar ku. Tiba-tiba Adil melewat di dekat ku dan sepontan Devara memanggil nya dan Adil pun menghampiri Devara yang memang duduk tepat di sebelah ku. “Dev awas atuh kamu nya jangan situ pindah di pinggir nya biar Adil duduk di situ” ujar Rizki, dan kini Adil pun duduk di samping ku dan tangannya diulurkan pada kursi yang ku tempati “aciee.” Ujar Devara, Rizki, Aji, Ilham dan lain lain. Suasana pun menjadi hidup “Adil, Nelis ini suka sama kamu” ujar Devara. “ihh enggak da enggak ihh Deva mah.” ujar ku kesal. Sesungguhnya duduk di dekat Adil sungguh nyaman, aku tak mau melepaskan moment ini namun yaa Adil itu kan orangnya sibuk jadi tak berapa lama Ia pun pergi.
Ya begitu lah kisah percintaan ku, sekarang ku hanya berharap menjadi kekasih Adil namun itu tak segampang membalikkan telapak tangan. Kini hanya ada pengorbanan yang sangat sulit dan penuh rintangan. Tangisan, kesedihan dalam pengorbanan ku untuk Adil semoga menjadi buah yang manis.
Perkataan Adil yang akan selalu ku ingat dan ku pengang:
Mengenai cinta itu sesungguhnya Allah adalah benihnya, hati adalah akarnya, kata-kata adalah dahannya & perbuatan adalah buahnya. Maka cinta tanpa perbuatan sama saja pohon untuk di tebang.

https://www.facebook.com/
https://mail.google.com/mail/?pli=1#sent

Share this article :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "awal yang singkat"

Terima Kasih Sudah Berkomentar
 
Template By. Kunci Dunia
Back To Top